E-book memang dikembangkan dari aplikasi document viewer. Namun biar bagaimanapun, antara e-book dengan document viewer tidak sama, baik dari segi layar maupun aplikasi. Sebuah document viewer biasanya digunakan untuk mempermudah seseorang dalam melihat sebuah dokumen. Dan keberadaannya tidak membutuhkan teknologi layar yang tinggi. Sebab dari awalnya, keberadaan aplikasi ini bukanlah untuk melihat sebuah dokumen yang panjang dan rumit seperti buku, melainkan hanya untuk mempermudahkan seseorang dalam melihat sebuah dokumen digital yang biasanya tidak terlalu banyak. Dengan document viewer, kita dapat menggabungkan beberapa dokumen mulai dari teks, tabel, sampai gambar tanpa harus membuka aplikasi berbeda. Serta dengan document viewer data yang dibuat pun tidak akan berpindah tempat. Di samping itu dengan dokumen viewer, bobot dokumen juga akan mengalami kompresi. Sehingga dapat lebih mobile dibanding jika harus mengirimkan dokumen yang terpisah-pisah. Sedangkan e-book, sesuai dengan namanya e-book (electronic book) adalah versi digital dari sebuah buku. Banyaknya data dalam e-book jauh lebih panjang dari dokumen digital biasa. Sehingga untuk membacanya dibutuhkan kenyaman tersendiri, baik dari segi hardware-nya maupun aplikasinya. Keduanya memang memiliki perangkat dan aplikasi yang serupa, namun pada penerapannya keduanya sangat berbeda. Baik dari peralatan yang digunakan maupun aplikasi yang dibutuhkan. Perbedaan mendasar terletak pada layar yang digunakan oleh keduanya serta program yang dipakai.
Layar Berbeda dengan document viewer yang tidak memerlukan layar yang terlalu canggih. Sebab durasi membaca sebuah dokumen tidaklah selama membaca buku. Oleh sebab itu pula aplikasi ini dikenal dengan sebutan document viewer. Meskipun sekarang sudah banyak e-book yang dibaca dengan menggunakan komputer, PDA, atau ponsel, namun tetap saja hal tersebut dianggap kurang proporsional untuk dilakukan. Mengingat isi buku sangat panjang dan teknologi layar yang ada saat ini pada masing-masing peralatan tersebut belum dianggap memiliki nilai kenyamanan yang sama dengan kertas pada buku atau koran. CRT. Meskipun keberadaannya masih terus dikembangkan dan produksinya masih terus meningkat. Namun CRT tidak mampu menjadi layar utama untuk e-book, mengingat CRT tidak cukup fleksibel untuk dijadikan alat baca. Selain CRT, LCD adalah pilihan utama lain. LCD memiliki bentuk fisik yang lebih ramping, ringan, dan mengonsumsi daya lebih sedikit dibandingkan CRT. Namun resolusi yang dimiliki LCD belum sebaik CRT. Selain itu, hal lain yang menjadi kelemahan LCD adalah angle view-nya yang lebih sempit dibandingkan CRT. Dan bila Anda membaca dengan layar LCD di bawah sinar matahari, maka gambar maupun tulisan tidak akan dapat terlihat dengan jelas. Melalui teknologi LCD, ada satu lagi layar yang diproduksi secara massal dan saat ini sedang sangat digemari, yaitu layar plasma. Namun, layar plasma dianggap juga belum mampu memenuhi kebutuhan mata untuk membaca e-book. Sampai akhirnya ditemukan sebuah teknologi baru yang dinamakan OLED. Struktur OLED terdiri atas lapisan kaca yang dilapisi dengan oksida timah-indium yang berfungsi sebagai anoda. Di atas lapisan oksida terdapat lapisan organik dari aromatic diamine yang tebalnya 750 angstrom (75 nm), lapisan light-emitting terbuat dari senyawa metal kompleks misalnya 8-hydroxyquinoline aluminium, dan lapisan katoda yang terbuat dari campuran logam magnesium dan perak (dengan perbandingan atom 10:1). Konstruksi struktur lapisan seluruhnya tidak lebih dari 500 nm. OLED adalah singkatan dari Organic Light Emitting Diode. Dari namanya sudah dapat diketahui bahwa OLED terbuat dari lapisan organik yang memancarkan cahaya. Lapisan paling atas yang berfungsi sebagai anoda dari sebuah OLED adalah Oksida Timah Indium, lalu diikuti oleh lapisan organiknya dari aromatic diamine, diikuti dengan lapisan pemancar cahayanya, kemudian sebagai lapisan terakhir yaitu lapisan yang berfungsi sebagai katoda yang terbuat dari campuran magnesium dan perak. Keseluruhan konstruksi OLED hanya sekitar 500 nm. Yang artinya sangat tipis sekali. Oleh sebab itu, OLED dapat digulung seperti layaknya selembar kertas. Jika LCD memiliki angle view sebesar 10 derajat saja, maka OLED mampu memberikan angle view sebesar 160 derajat. OLED juga jauh lebih tipis dan ringan, sehingga lebih fleksibel dan lebih mungkin untuk digunakan untuk membaca e-book. Konsumsi daya OLED pun tidak terlalu besar, sekitar 1/3 dari yang digunakan oleh LCD. Cukup hemat, bukan? Oleh sebab itu, OLED lebih fleksibel dan lebih mungkin untuk digunakan pada e-book. Dan berhubung semua bahan penyusun OLED lebih murah dari pada cairan pada layar LCD atau tabung pada layar CRT, maka harga OLED pun dapat lebih murah dibandingkan LCD maupun CRT.
Kebutuhan masyarakat yang sangat besar akan keberadaan document viewer telah membuat aplikasi ini tersedia secara gratis. Salah satu dokumen viewer yang dapat di-download secara cuma-cuma adalah Adobe Acrobat Reader yang berformat pdf. Banyaknya para pengguna format dan aplikasi ini juga telah mendorong format pdf sebagai standar format untuk document viewer. Aplikasi yang digunakan sebagai document viewer ini jugalah yang telah menjadi inspirasi bagi aplikasi yang digunakan oleh e-book sebagai reader-nya. Oleh sebab itu, tampilan sebuah reader pada e-book tidak jauh berbeda dengan Acrobat Reader yang biasa digunakan sebagai document viewer. Sama seperti halnya sebuah document viewer, pada sebuah reader yang digunakan untuk e-book juga dapat menampilkan teks, tabel, dan gambar. Namun, ada beberapa hal yang membuat pdf tidak digunakan sebagai format standar e-book. |